20 September 2019 08:42 wib

Fakultas Kesehatan Masyarakat UINSU Medan melaksanakan Seminar Nasional Rancang Bangun Ilmu Kesehatan Integratif dan Workshop Kurikulum Rumpun Ilmu Kesehatan di Brastagi, Sumatera Utara dari tanggal 9-11 September 2019 yang lalu. Sebagaimana diketahui bersama, salah satu argumentasi filosofis kehadiran Universitas Islam Negeri hasil transformasi dari IAIN adalah keharusan bagi UIN untuk melakukan integrasi agama dan ilmu umum yang dalam sejarah panjangnya telah diposisikan secara dikotomik bahkan dalam tingkat tertentu saling berhadapan. Upaya integrasi ini telah dilakukan oleh UIN-UIN yang ada di Indonesia dengan desain keilmuan yang bervariasi kendatiupun muaranya tetap satu, mengembalikan ilmu kepada sang pemiliknya, Allah SWT.

 Hadir sebagai peserta pada acara tersebut adalah Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maliki Malang Prof. Dr. dr, Bambang Pardjianto, Sp.B, Sp. BP, RE (K), Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) UIN Walisongo Semarang, Dr. Darmu’in, M. Ag, Dekan Fakultas Psikologi UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Darmu’in, M. A, Wakil Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin Makasar, Dr. Nur Hidayah, S. Kep, Ns, M. Kes, Wakil Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Moch. Irfan Hadi, S. KM, M.KL. Disamping jajaran dekan, acara seminar dan workshop juga dihadiri oleh ketua prodi rumpun ilmu kedokteran dan kesehatan. Khusus dari FKM UINSU, hadir seluruh dekan, wakil dekan, perangkat Prodi dan dosen-dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UINSU Medan. Sebagai nara sumber hadir Prof. Dr. M. Arskal Salim GP (Direktur PTKI Kementerian Agama, Prof. Dr. Safaruddin, M. Pd (Wakil Rektor I UINSU Medan dan Prof. Dr. Iswandi Jaswir M.Sc dari Riset Halal IIUM Malaysia.

Kegiatan yang berlangsung dua hari tersebut sesungguhnya ingin menegaskan keunggulan dan pembedaan (distingsi)  Fakultas Kedokteran, Kesehatan dan Psikologi yang ada di lingkungan PTKIN dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Psikologi yang ada di Lingkungan Perguruan Tinggi pada umumnya. Rektor UINSU TGS Prof. Dr. Saidurrahman, M. Ag,  yang diwakili oleh Wakil Rektor I UINSU dalam sambutannya mengatakan menyambut baik atas terlaksananya Seminar Ilmu Kesehatan Integratif. Kegiatan seperti ini penting dalam rangka menegaskan desain keilmuan FKM UINSU Khususnya dan UIN lain pada umumnya. Merumuskan keilmuan integratif membutuhkan waktu yang panjang dan harus dilaksanakan secara konsisten. Upaya seminar, diskusi dan riset menjadi niscaya sampai kita benar-benar memiliki desain keilmuan yang benar-benar mantap. Ke depan, ujar Rektor, UINSU akan mengembangkan Prodi Pendidikan Dokter, Prodi Farmasi, Prodi Keperawatan, S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat serta Prodi Psikologi. FKM juga telah menunjukkan keberhasilannya dengan meraih akreditas B dan jurnal Jumantik yang masih mudah sudah terindeks di Sinta. Rektor berharap, FKM terus memacu kualitas dan meningkatkan mutu lulusan sehingga dapat bersaing dengan FKM lainnya di Indonesia.

Direktur Diktis, Prof. Arskal Salim dalam presentasenya menekankan bahwa integrasi menjadi satu keniscayaan bagi UIN-UIN yang ada di Indonesia. Paradigma dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan sudah seharusnya diakhiri. Tidak saja bertentangan dengan semangat Ilmu yang digagas Al-Qur’an juga bertentangan dengan sejarah peradaban Islam itu sendiri. Oleh karena itu, ada ahli yang menyebutnya dengan istilah reintegrasi, karena sesungguhnya integrasi ilmu sudah terjadi sejak awal pertumbuhan dan perkembangan sains dalam Islam seperti yang lakoni oleh ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Khawarizmi dan lain-lain. Namun pada perkembangan berikutnya, terjadi dikotomi agama dan ilmu. Oleh sebab itu, saat ini yang dilakukan adalah mengintegrasikan kembali agama dan ilmu. Itulah yang menjadi penciri UIN-UIN yang ada di Indonesia.

Menurut Prof. Arskal, dalam rangka mendorong integrasi yang mendapat perhatian serius pada era kepemimpinan Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, Kemenag melaui Diktis telah meluncurkan Pedoman Implementasi Integrasi Ilmu di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) tahun 2019. Naskah setebal 61 halaman ini memuat informasi yang sarat makna, sejarah, makna filosofis sampai bentuk integrasi. Naskah ini sejatinya harus dipedomani UIN-UIN yang ada di Indonesia.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat, muncul keinginan yang kuat dari semua UIN yang ada untuk melakukan pengembangan rumpun Ilmu Kesehatan dengan cara membuka prodi Pendidikan dokter, Prodi Keperawatan, Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prodi Farmasi dan lain-lain. Sayangnya upaya-upaya ini masih mengalami kendala dengan kebijakan Kementerian Riset dan Tekhnologi. Sebagaimana diketahui bersama, Kemenristek memiliki pemikiran bahwa UIN-UIN semestinya membukan prodi-prodi umum secara bertahap. Adapun tahapan yang dimaksud adalah, diawali dengan prodi ilmu-ilmu sosial-humaniora, kemudian ilmu-ilmu sains dasar seperti fisika, biologi, lalu ilmu-ilmu enginering dan akhirnya baru membuka prodi di dalam rumpun ilmu Kedokteran atau ilmu Kesehatan. Kebijakana inilah yang membuat pengembangan prodi ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan menjadi terhambat. Sampai saat ini, sekedar contoh, di UIN Sunan Ampel Surabaya kendati ada Fakultas Psikologi dan Kesehatan namun prodi yang eksis barulah prodi Psikologi. Sedangkan prodi Ilmu Kesehatan tidak ada kendatipun mereka memiliki sumber daya yang lengkap. Demikian juga di beberapa UIN lainnya.

Merespon persoalan ini, Direktur Diktis berjanji akan membicarakan masalah pembukaan prodi rumpun ilmu kedokteran dan Ilmu Kesehatan ini kepada Menteri Agama dan selanjutnya akan mendialogkannya dengan Kemenristek Dikti. Menurutnya, dalam rangka mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, PTKIN harus diberi ruang yang luas dan selebar-lebarnya untuk berkontribusi dalam rangka mewujudkan program-program Presiden khususnya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Sedangkan Narasumber lainnya, Prof. Jaswir menjelaskan bahwa saat ini kepedulian terhadap isu halal semakin meningkat terutama di luar negeri. Sebut saja misalnya Korea, Jepang , sangat serius dalam pengembangan industri halal. Persoalannya adalah, Indonesia masih terfokus pada sertifikasi halal dan kurang mengembangkan industri halal itu sendiri. Oleh karenanya, UIN yang ada di Indonesia harus mengembangkan studi halal yang pada gilirannya dapat mendorong berkembangnya industri halal di Indonesia. Salah satu kemestian yang tidak bisa ditawar adalah, keberadaan laboratorium halal di setiap UIN.

Dekan FKM UINSU Dr. Azhari Akmal Tarigan didampingin Dr. Watni Marpaung selaku ketua Panitia menyampaikan acara Seminar Ilmu Kesehatan Integratif ini berlangsung dengan sangat baik terbukti dengan keaktifan peserta dalam mengikuti seluruh acara. Yang amat disyukuri adalah, Terbentuknya Konsorsium rumpun Ilmu Kedokteran, Ilmu Kesehatan dan Psikologi. Sebenarnya dalam bentuk profesi, sudah terbentuk asosiasi-asosiasi baik yang di perguruan tinggi umum ataupun di PTKIN. Namun secara institusi kefakultasan, hal ini belum ada sama sekali. Bergabungnya kedokteran, kesehatan dan psikologi menjadi satu konsorsium karena fakultas-fakultas kedokteran dan kesehatan seperti yang telah disebut di atas, masih sedikit (tidak semua UIN punya fak kedokterand dan Fak Kesehatan) dan juga nomenklaturnya masih bervariasi, maka menggabungkannya menjadi satu adalah sebuah terobosan dalam rangka menguatkan dan saling membesarkan. Masih menurut Dekan FKM, ke depan kerjasama akan dilanjutkan dengan publikasi ilmiah, riset-riset kolaboratif dan kerjasama lainnya. Ketua panitia menambahkan, Pada tahun 2020, seluruh peserta sepakat untuk mengamanahkan kepada Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya untuk melaksanakan pertemuan kedua.

Pertemuan tersebut juga menghasilkan rekomendasi kepada Menteri Agama yang intinya mendorong kementerian Agama untuk melakukan upaya percepatan pembukaan prodi baru dalam rumpun ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan, mengupayakan terfasilitasinya laboratorium yang representatif dan handal di UIN yang memiliki prodi Kedokteran dan ilmu kesehatan, serta mendorong terbangunnya laboratorium halal di setiap UIN.