28 April 2021 14:49 wib
  • agama,informasi,kesehatan,uin-su

Wakil Dekan II Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (FKM UIN-SU) Dr. Watni Marpaung M.A., menjadi narasumber dalam kegiatan Tadarus Wahdatul Ulum FKM UIN-SU, Senin (26/04/2021). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB diikuti oleh civitas akademika FKM UIN-SU mengangakat tema “Al-Qur’an dan Pengobatan”.

Pada pertemuan ke tujuh kegitan Tadarus Wahdatul Ulum ini, Dr. Watni Marpaung M.A., menyampaikan bahwa istilah kesembuhan dalam Al-Qur’an disebut syifa’, kata syifa disebutkan sebanyak 4 kali dalam Al-Qur’an, hal ini menegaskan bahwa Alqu’an dapat menjadi obat kesembuhan suatu penyakit.

“Sedangkan dalam hadist disebut dawa’ artinya juga obat yang menghantarkan kesembuhan. Kedua istilah ini memiliki perbedaan, jika syifa dapat menyembuhkan penyakit yang bersifat zahir seperti demam, asam lambung dan penyakit batin seperti, iri, dengki sombong dan lainnya, sedangkan dawa’ hanya mampu menyembukan penyakit yang bersifat fisik,” paparnya.

Lebih lanjut Watni Marpaung, menyebutkan ada tiga pengobatan dalam Islam yaitu, madu, ruqyah dan bekam. Madu disebutkan langsung dalam Al-Qur’an sebagai obat, sudah banyak hasil penelitian ilmiah menyebutkan bahwa madu memiliki manfaat untuk kesehatan.

Sementara itu, sambungnya, orang orang yang memiliki gangguan penyakit bathin dapat menggunkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai media penyembuhan yang disebut dengan ruqyah. Ada ayat-ayat khusus yang digunkan untuk penyembuhan dalam ruqyah walaupun sesungguhnya semua ayat Al-Qur’an sebagai syifa’ (obat). Sedangkan pengobatan melalui bekam sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah, rasul selalu melakukan bekam pada tanggal 16,17, 18 setiap bulan Qomariyah.

“Hendaknya tidak boleh terpisahkan pengobatan memalui medis dan agama, kita tetap berusaha melakukan penyembuhan melalui media pengobatan secara medis, sembari terus berdo’a kepada Allah SWT. Oleh karenanya penting untuk kita memiliki keyakinan dan ketauhidan yang benar dalam mengharapkan kesembuhan dari Allah SWT,” ungkapnya.

Di akhir kegiatan Dekan FKM UIN-SU Prof. Dr. Syafaruddin, M.Pd menyampaikan bahwa bila ada rencana untuk membuka program studi baru tentang pengobatan keislaman, ada beberapa syarat diantaranya harus dibawa dulu nomenklaturnya ke Jakarta dan ada alasan yang kuat program studi yang akan dibuka sudah menjadi displin ilmu.